Customer Service RSKO Pada Hari Kerja Jam 7.30 sd 16.00 WIB : 0813-1871-8880 (Whatsapp)
News Photo

Rokok dan TBC, Apa Hubungannya ?

Hari TB Sedunia lupakan merokok I Sumber Foto : olah digital dokpri Select an Image

Hai #Healthypeople tentu Anda sudah sering mendengar mengenai informasi larangan merokok di tempat umum.

Larangan ini diatur dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 40 Tahun 2020 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pembinaan, Pengawasan dan Penegakan Hukum Kawasan Dilarang Merokok.

Tapi apakah alasannya Pemerintah RI membuat aturannya ?

Ternyata merokok adalah salah-satu faktor risiko Tuberkulosis (TBC). Merokok dapat secara aktif dan juga pasif membuat warga rentan terkena TBC.

Merujuk pada tema global Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) tahun 2024 yang diangkat oleh WHO yaitu “Yes! We Can End TB”.

Sedangkan tema yang dipilih oleh Indonesia berhubungan dengan suatu gerakan yang mengajak berkolaborasi dan sinergi berbagai pihak untuk mencegah TBC, menemukan dan mengobati sampai sembuh hingga mencapai eliminasi TBC. Tema HTBS 2024 Indonesia adalah “Gerakan Indonesia Akhiri Tuberkulosis (GIAT)”.

Berdasarkan data yang dilansir tbcindonesia.or.id sebanyak 1.060.000 orang dengan TBC menjadikan Indonesia negara terbanyak kedua setelah India.

Terdapat 31.000 orang dengan TBC Resisten Obat, 134.000 kematian akibat TBC, dan 86 % keberhasilan pengobatan.

Tugas berat Pemerintah, kalangan medis, pemerhati  TB memang cukup berat. Berhenti merokok bagi yang sudah addict (kecanduan) menjadi hal yang sulit bagi sebagian perokok, karena merokok sudah menjadi suatu kebiasaan candu yang dibentuk dalam waktu lama.

Global TB Report 2023 mencatatkan merokok menjadi faktor kedua TBC di Indonesia, faktor pertamanya malnutrisi.

Merokok memiliki risiko 73 persen lebih tinggi terinfeksi TBC. Bahkan merokok memiliki potensi dua kali lipat mengarah ke TB aktif dibandingkan orang yang tidak merokok sama sekali.

Asap rokok dapat menurunkan sistem pertahanan saluran pernafasan sehingga lebih mudah terinfeksi bakteri penyebab TBC.

Orang yang merokok dapat memicu TBC Laten mengarah ke TBC aktif. Adapun pengertian TBC Laten adalah kondisi tubuh yang sudah mengidap bakteri mycobacterium tuberculosis namun dalam keadaan tidak aktif (dormant), tidak menimbulkan gejala, dan tidak menular.

Sedangkan TBC aktif adalah kondisi yang membuat penyakit TBC bisa menular dan membuat seseorang menjadi sakit TBC dengan gejala seperti batuk terus-menerus, batuk berdarah, penurunan berat badan, kelelahan, nyeri dada, demam, dan berkeringat di malam hari tanpa adanya aktivitas.

Memang berhenti merokok bagi perokok berat akan menimbulkan beberapa gejala seperti gelisah, insominia (gangguan tidur), hingga rasa lapar berlebih.

Hal tersebut tidak perlu dicemaskan karena keluhan tersebut dapat diatasi dengan cara ;

Gelisah cara mengatasinya dengan olahraga, melakukan hobi atau mencoba hal-hal baru (seperti memasak, bekebun, otomotif, menggambar, belajar seputar teknologi terbaru, dll), Mencari dukungan orang terdekat, Berhenti sejenak lalu ambil napas dalam lalu hembuskan, ulangi beberapa kali, dan Konsumsi permen karet bebas gula.

Insomnia cara mengatasinya dengan Hindari konsumsi kafein (kopi, teh, dll) di sore dan malam hari, Olahraga secara teratur, Membiasakan tidur dan bangun di waktu yang sama, Hanya menggunakan tempat tidur untuk tidur (tidak untuk bekerja, bermain handphone, dll), Matikan lampu atau batasi penerangan di kamar tidur, Jangan makan atau minum dalam jumlah besar sesaat sebelum tidur.

Rasa lapar berlebih mengatasinya dengan berpuasa, makan banyak buah dan sayur, olahraga secara teratur, hindari makanan atau minuman berkalori tinggi, sedia permen karet bebas gula, dan minum lebih banyak air putih.

Hentikan perilaku merokok demi kesehatan Anda dan orang-orang yang disayangi.

Salam sehat !

Promosi Kesehatan Rumah Sakit

RSKO Jakarta

Share This News