Customer Service RSKO Pada Hari Kerja Jam 7.30 sd 16.00 WIB : 0813-1871-8880 (Whatsapp)
News Photo

Mengenal Anemia Defisiensi Besi

Anemia atau kurang darah, merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin (Hb) di dalam sel darah merah. 

Hemoglobin berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jadi bila seseorang menderita Anemia membuat kebutuhan oksigen jaringan tubuh tidak terpenuhi.

Tulisan ini menyangkut Anemia Defesiensi Besi, bersumber dari Video Youtube pada tanggal 1 Februari 2021 yang di upload oleh akun Nutrisi Bangsa yang berjudul “"Peran Nutrisi dalam Tantangan Lintas Generasi" dengan narasumber yaitu Dr.dr.Diana Sunardi, MGIZI, SpGK (Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesian Nutrition Association).

..

1. Anemia Defisiensi Besi Tidak Hanya Menimpa Orang Dewasa

Dr.dr.Diana Sunardi, MGIZI, SpGK (Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesian Nutrition Association) menyampaikan berdasarkan data Riskesdas ternyata Anemia masih menjadi tantangan Pemerintah Indonesia karena angkanya masih tinggi. 

<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]-->Deskripsi : Deskripsi : Prevelensi Anemia I Sumber Foto : Presentasi Dr.Diana Sunardi<!--[endif]-->

Kasus pada balita persentasenya masih diatas 25 % sedangkan untuk anak remaja persentasenya lebih dari 20 %. Bahkan di Ibu Kota Indonesia, Jakarta, menunjukkan angka yang sama masih tinggi. 

Sedangkan untuk proporsi Anemia untuk Ibu Hamil terjadi peningkatan, dimana tahun 2013 persentasenya 37 ,1 % naik menjadi 48,9 % di tahun 2018.  

Angka kasus Anemia tersebut akan mempengaruhi juga angka Stunting di Indonesia yang masih dikisaran 37 %.  Bila keadaan Anemia defisiensi besi pada ibu hamil terjadi ini akan berdampak risiko melahirkan bayi-bayi yang mengalami kurang berat badan sehingga berisiko anak dengan tubuh pendek / Stunting.

..

2. Klasifikasi Anemia Defisiensi Besi Berdasarkan Kelompok Umur

Dr. Diana menerangkan bahwa Anemia defisiensi besi merupakan masalah dan tantangan saat ini serta penentu masa depan bangsa Indonesia. Karena dampak yang ditimbulkannya baik jangka pendek dan jangka panjang. 

Anemia merupakan kondisi rendahnya kadar HB dibandingkan dengan kadar normal, yang menunjukkan kurangnya sel darah merah yang bersikulasi.

Klasifikasi Anemia menurut WHO 2011 bila dibagi menurut kelompok umur ; Anak 6-59 bulan, Anak 5-11 tahun,  Anak 12-14 tahun, Perempuan tidak hamil (> 15 tahun), Ibu hamil, Laki- laki (> 15 tahun).

Dengan suara yang lembut, Dr.Diana menjelaskan bisa dinyatakan Anemia (ringan) dimana anak balita pada angka 10 mm/dl, dan untuk anak remaja (ABG) di angka 12 mm/dl sedangkan khusus ibu hamil batasannya di angka 10 mm/dl. 

..

3. Penyebab Anemia Defisiensi Besi

Penyebab Anemia defisiensi besi bila jumlah kebutuhan zat besi tidak tercapai, yang utama ialah asupan makan atau bisa jadi ada penyakit atau penyebab lain. 

Asupan makanan penduduk Indonesia menurut Dr.Diana masih didominasi pangan nabati, dan asupan energi dengan protein yang rendah, sehingga warga mengalami defisiensi energi, protein dan mikronutrient.

Terdapat beberapa faktor penyebab Anemia kurang zat besi baik dari faktor asupan, faktor demografik dan faktor sosial.

Ada pun faktor asupan makanan pada Anemia defisiensi besi dapat ditimbulkan dari penyerapan zat besi yang rendah terutama besi heme, asupan vitamin C yang rendah, komsumsi sumber fitat yang berlebihan, komsumsi sumber tannin (kopi, teh) berlebihan, dan menjalankan diet yang tidak seimbang.

Penyebab Anemia defisiensi besi pada anak yang perlu diperhatikan, pertama pemilihan makanan yang kurang sumber zat besi, asupaan makanan yang tidak bervariasi, kondisi tertentu yang menyebabkan gangguan penyerapan, kondisi tertentu yang menyebabkan penyerapan zat besi rendah (alergi makanan sumber besi heme).

Jadi perlu diketahui bahwa zat besi heme yang bersumber dari protein hewani itu amat mudah diserap oleh tubuh. Sedangkan asupan makanan besi non heme (sumber makanan nabati) harus melalui proses dimana dirubah dulu oleh tubuh agar mudah diserap. 

Agar sumber makanan non heme mudah diserap perlu bantuan vitamin c, asam sitrat, dan komponen makanan-makanan yang lain. Terdapat beberapa kandungan unsur makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi seperti fitat, tanin, polifenol, kalsium dan zinc. 

Dr.Diana membeberkan bahan makanan sumber zat besi yang dapat dikomsumsi warga, contohnya dari hewani (MG/100 g); daging ayam, daging sapi, daging domba, hati ayam, hati sapi, hati domba, ikan salmon. 

Sedangkan untuk makanan nabati (MG/100 g) terdapat pada bayam, wortel, kangkung, tempe, tahu, brokoli, asparagus, jamur, daun singkong, kecipir dan kacang buncis.

Agar sumber makanan sumber zat besi itu mudah diserap oleh tubuh, Anda sebaiknya mengomsumsi makanan yang mengandung vitamin C yang mudah didapat sehari-hari. Sumber vitamin C dapat diperoleh di paprika merah (190 mr/100 gr), jambu biji (108 mg/100 gr), mangga (41 mg/100 gr), jeruk (30-50 mg/100 gr).

..

4. Gejala Anemia Defisiensi Besi

Pertumbuhan pada anak dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari protein, vitamin, kabohidrat, kalsium dan termasuk zat besi. Bila kekurangan zat besi dapat mengakibatkan Anemia. 

<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]-->Deskripsi : Gejala Anemia I Sumber Foto : Presentasi Dr.Diana Sukardi<!--[endif]-->

Sama seperti penyakit lainnya, Anemia juga memiliki gejala. Dr.Diana menerangkan gejala umum anemia yg sering dijumpai seperti kelompak mata yang pucat, kulit pacat, tekanan darah rendah, sakit kepala, nadi cepat, nafas cepat/sesak nafas, kelemahan otot, dan pembesaran limpa.

Sedangkan untuk ibu hamil gejala yang mudah ditemukan adalah mulai dari wajah, terutama kelopak mata dan bibir tampak pucat hingga kurang nafsu makan, lesu dan lemah, cepat lelah, sering pusing dan mata berkunang-kunang.

..

5. Dampak Anemia Defisiensi Besi

Anemia memiliki risiko menimbulkan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Serius tapi santai Dr. Diana menyebutkan dampak Anemia pada kehamilan ini cukup serius. Pesannya, oleh sebab itu sebaiknya menjadi perhatian bagi ibu hamil.

Dampak Anemia defisiensi besi pada ibu hamil mulai dari infeksi, gangguan pertumbuhan pada janin, prematur, kejang pada kehamilan, pendarahan pasca kehamilan, gangguan pertumbuhan janin, bahkan bila berlanjut lama maka akan dapat menimbulkan gangguan fungsi jantung pada ibu.

Bagaimana dengan anak-anak ? gejala anemia pada anak akan membuat mereka menjadi rewel, lemas, pusing serta tidak ada nafsu makan. Kejadian tidak nafsu makan bukan karena tidak mau makan tapi karena anemia nya. Tidak hanya itu saja, si kecil akan merasakan gangguan konsentrasi, gangguan pertumbuhan, cendrung mengantuk dan tidak aktif bergerak (Mager). 

<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]-->Deskripsi : Dampak Jangka Panjang Anemia I Sumber Foto : Presentasi Dr.Diana Sukardi<!--[endif]-->

Nah, dampak jangka panjang anemia sendiri pada orang dewasa dan anak-anak tentunya akan menurunkan daya tahan tubuh, infeksi akan meningkat dan kebugaran yang menurun. Karena ke 3 (tiga) dampak tersebut berujung prestasi dan kinerja menjadi kurang baik. (AM/PKRS)

..

Laporan Unit Kerja Hukormas RSKO Jakarta

 

 

Share This News