Anemia atau
kurang darah, merupakan suatu kondisi dimana terjadi penurunan kadar hemoglobin
(Hb) di dalam sel darah merah.
Hemoglobin
berfungsi untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jadi bila seseorang
menderita Anemia membuat kebutuhan oksigen jaringan tubuh tidak terpenuhi.
Tulisan ini
menyangkut Anemia Defesiensi Besi, bersumber dari Video Youtube pada tanggal 1
Februari 2021 yang di upload oleh akun Nutrisi Bangsa yang berjudul “"Peran Nutrisi dalam Tantangan Lintas Generasi" dengan narasumber yaitu Dr.dr.Diana
Sunardi, MGIZI, SpGK (Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesian Nutrition
Association).
..
1.
Anemia Defisiensi Besi Tidak Hanya Menimpa Orang Dewasa
Dr.dr.Diana
Sunardi, MGIZI, SpGK (Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesian Nutrition
Association) menyampaikan berdasarkan data Riskesdas ternyata Anemia masih
menjadi tantangan Pemerintah Indonesia karena angkanya masih tinggi.
<!--[if gte vml 1]>
<!--[endif]-->
Kasus pada
balita persentasenya masih diatas 25 % sedangkan untuk anak remaja
persentasenya lebih dari 20 %. Bahkan di Ibu Kota Indonesia, Jakarta,
menunjukkan angka yang sama masih tinggi.
Sedangkan
untuk proporsi Anemia untuk Ibu Hamil terjadi peningkatan, dimana tahun 2013
persentasenya 37 ,1 % naik menjadi 48,9 % di tahun 2018.
Angka kasus
Anemia tersebut akan mempengaruhi juga angka Stunting di Indonesia yang masih
dikisaran 37 %. Bila keadaan Anemia
defisiensi besi pada ibu hamil terjadi ini akan berdampak risiko melahirkan
bayi-bayi yang mengalami kurang berat badan sehingga berisiko anak dengan tubuh
pendek / Stunting.
..
2. Klasifikasi
Anemia Defisiensi Besi Berdasarkan Kelompok Umur
Dr. Diana menerangkan
bahwa Anemia defisiensi besi merupakan masalah dan tantangan saat ini serta
penentu masa depan bangsa Indonesia. Karena dampak yang ditimbulkannya baik
jangka pendek dan jangka panjang.
Anemia
merupakan kondisi rendahnya kadar HB dibandingkan dengan kadar normal, yang
menunjukkan kurangnya sel darah merah yang bersikulasi.
Klasifikasi
Anemia menurut WHO 2011 bila dibagi menurut kelompok umur ; Anak 6-59 bulan,
Anak 5-11 tahun, Anak 12-14 tahun, Perempuan tidak hamil (> 15 tahun),
Ibu hamil, Laki- laki (> 15 tahun).
Dengan
suara yang lembut, Dr.Diana menjelaskan bisa dinyatakan Anemia (ringan) dimana
anak balita pada angka 10 mm/dl, dan untuk anak remaja (ABG) di angka 12 mm/dl
sedangkan khusus ibu hamil batasannya di angka 10 mm/dl.
..
3.
Penyebab Anemia Defisiensi Besi
Penyebab
Anemia defisiensi besi bila jumlah kebutuhan zat besi tidak tercapai, yang
utama ialah asupan makan atau bisa jadi ada penyakit atau penyebab lain.
Asupan
makanan penduduk Indonesia menurut Dr.Diana masih didominasi pangan nabati, dan
asupan energi dengan protein yang rendah, sehingga warga mengalami defisiensi
energi, protein dan mikronutrient.
Terdapat
beberapa faktor penyebab Anemia kurang zat besi baik dari faktor asupan, faktor
demografik dan faktor sosial.
Ada pun
faktor asupan makanan pada Anemia defisiensi besi dapat ditimbulkan dari penyerapan
zat besi yang rendah terutama besi heme, asupan vitamin C yang
rendah, komsumsi sumber fitat yang berlebihan, komsumsi sumber tannin (kopi,
teh) berlebihan, dan menjalankan diet yang tidak seimbang.
Penyebab
Anemia defisiensi besi pada anak yang perlu diperhatikan, pertama pemilihan
makanan yang kurang sumber zat besi, asupaan makanan yang tidak bervariasi,
kondisi tertentu yang menyebabkan gangguan penyerapan, kondisi tertentu yang
menyebabkan penyerapan zat besi rendah (alergi makanan sumber besi heme).
Jadi perlu
diketahui bahwa zat besi heme yang bersumber dari protein hewani itu amat mudah
diserap oleh tubuh. Sedangkan asupan makanan besi non heme (sumber makanan
nabati) harus melalui proses dimana dirubah dulu oleh tubuh agar mudah
diserap.
Agar sumber
makanan non heme mudah diserap perlu bantuan vitamin
c, asam sitrat, dan komponen makanan-makanan yang lain. Terdapat
beberapa kandungan unsur makanan yang dapat menghambat penyerapan zat besi seperti
fitat, tanin, polifenol, kalsium dan zinc.
Dr.Diana
membeberkan bahan makanan sumber zat besi yang dapat dikomsumsi warga,
contohnya dari hewani (MG/100 g); daging ayam, daging sapi, daging domba, hati
ayam, hati sapi, hati domba, ikan salmon.
Sedangkan
untuk makanan nabati (MG/100 g) terdapat pada bayam, wortel, kangkung, tempe,
tahu, brokoli, asparagus, jamur, daun singkong, kecipir dan kacang buncis.
Agar sumber
makanan sumber zat besi itu mudah diserap oleh tubuh, Anda sebaiknya
mengomsumsi makanan yang mengandung vitamin C yang mudah didapat sehari-hari.
Sumber vitamin C dapat diperoleh di paprika merah (190 mr/100 gr), jambu biji
(108 mg/100 gr), mangga (41 mg/100 gr), jeruk (30-50 mg/100 gr).
..
4.
Gejala Anemia Defisiensi Besi
Pertumbuhan
pada anak dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari protein, vitamin, kabohidrat,
kalsium dan termasuk zat besi. Bila kekurangan zat besi dapat mengakibatkan
Anemia.
<!--[if gte vml 1]>
<!--[endif]-->
Sama
seperti penyakit lainnya, Anemia juga memiliki gejala. Dr.Diana menerangkan
gejala umum anemia yg sering dijumpai seperti kelompak mata yang pucat, kulit
pacat, tekanan darah rendah, sakit kepala, nadi cepat, nafas cepat/sesak nafas,
kelemahan otot, dan pembesaran limpa.
Sedangkan
untuk ibu hamil gejala yang mudah ditemukan adalah mulai dari wajah, terutama
kelopak mata dan bibir tampak pucat hingga kurang nafsu makan, lesu dan lemah,
cepat lelah, sering pusing dan mata berkunang-kunang.
..
5.
Dampak Anemia Defisiensi Besi
Anemia
memiliki risiko menimbulkan dampak jangka pendek dan jangka panjang. Serius
tapi santai Dr. Diana menyebutkan dampak Anemia pada kehamilan ini cukup
serius. Pesannya, oleh sebab itu sebaiknya menjadi perhatian bagi ibu hamil.
Dampak
Anemia defisiensi besi pada ibu hamil mulai dari infeksi, gangguan pertumbuhan
pada janin, prematur, kejang pada kehamilan, pendarahan pasca kehamilan,
gangguan pertumbuhan janin, bahkan bila berlanjut lama maka akan dapat
menimbulkan gangguan fungsi jantung pada ibu.
Bagaimana
dengan anak-anak ? gejala anemia pada anak akan membuat mereka menjadi rewel,
lemas, pusing serta tidak ada nafsu makan. Kejadian tidak nafsu makan bukan
karena tidak mau makan tapi karena anemia nya. Tidak hanya itu saja, si kecil
akan merasakan gangguan konsentrasi, gangguan pertumbuhan, cendrung mengantuk
dan tidak aktif bergerak (Mager).
<!--[if gte vml 1]>
<!--[endif]-->
Nah, dampak
jangka panjang anemia sendiri pada orang dewasa dan anak-anak tentunya akan
menurunkan daya tahan tubuh, infeksi akan meningkat dan kebugaran yang menurun.
Karena ke 3 (tiga) dampak tersebut berujung prestasi dan kinerja menjadi kurang
baik. (AM/PKRS)
..
Laporan
Unit Kerja Hukormas RSKO Jakarta
Share This News