Customer Service RSKO Pada Hari Kerja Jam 7.30 sd 16.00 WIB : 0813-1871-8880 (Whatsapp)
News Photo

Waspada Osteoporosis, Bisa Hadir Tanpa Gejala

Saat pandemi Covid19 melanda kita sebaiknya juga memperhatikan kesehatan tubuh kita yang lain. Terdapat beberapa penyakit yang mengancam bahkan tidak dirasakan dan tanpa gejala. Salah-satunya Osteoporosis.

Osteoporosis sendiri begitu dikenal di masyarakat karena begitu banyak produk kesehatan yang dijual dan dipromosikan untuk mengatasi nya. 

Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh ap aitu Osteoporosis. Lebih kepada pengertian pengeroposan tulang saja. Ada baiknya Kita mengetahuinya lebih dalam agar dapat mencegah Osteoporosis.

Osteoporosis adalah Keadaan berkurangnya kepadatan tulang, yang disertai dengan penurunan kualitas jaringan tulang yang pada akhirnya dapat menimbulkan kerapuhan pada tulang.

Hal ini dapat menyebabkan tulang menjadi keropos dan akhirnya mudah patah. Osteoporosis jarang menimbulkan gejala dan biasanya baru diketahui ketika penderitanya jatuh atau mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang.

Seiring berkurangnya kepadatan tulang, penderita osteoporosis bisa mengalami gejala seperti mudah mengalami patah tulang, walau hanya karena benturan yang ringan. Ada juga beberapa pasien yang mengalami nyeri punggung, biasanya disebabkan oleh patah tulang belakang.

Postur badan membungkuk dan tinggi badan berkurang bisa menjadi tanda Anda mengalami osteoporosis. Ada pula gejala timbul dengan memberikan rasa nyeri sendi, gangguan otot (kaku dan lemah) dan bengkak.

Bila Anda merasakan tanda dan gejala tersebut segerakan mengunjungi fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan dan mengecek kepadatan tulang. 

Osteoporosis bisa dialami oleh siapa saja, bisa itu anak-anak maupun orang dewasa. Osteoporosis bias ditimbulkan dari dampak adanya penyakit lain (kelainan hormon atau karena pemakaian obat obatan).

Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kadar estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang.

Senior citizen / masyarakat dengan usia lanjut (> 60 tahun) pun memiliki risiko mengalami osteoporosis. Untuk itu harap berhati-hati dengan mengindari resiko jatuh. Perhatikan lantai yang licin, penerangan di ruangan,penggunaan alas kaki, dan hindari jalan yang tidak rata.

Risiko osteoporosis juga dapat timbul apabila ada riwayat osteoporosis pada keluarga. Gaya hidup yang kurang sehat seperti merokok, kurang olahraga, dan asupan kalsium dan vitamin D yang rendah dapat menjadi faktor risiko.

Mengkonsumsi obat obatan tertentu yang mengganggu penyerapan kalsium dan adanya penyakit lain yang berdampak pada kondisi tulang juga dapat menjadi faktor penyebab osteoporosis.

Terdapat beberapa hal yang harus dihindari seperti mimum alkhohol. Jangan berlebihan mengkomsumsi makanan dan minuman manis, kafein dan soda.

Agar terhindar dari osteoporosis sebaiknya Kita rutin melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan, mengatur pola makan, membiasakan olahraga, mengkomsumsi makanan dan minuman tinggi kalsium dan jangan lupakan berjemur dibawah sinar matahari pagi, berjalan kaki selama 15 – 30 menit perhari

Pada saat berolahraga pilihlah yang sesuai nyaman dan aman agar dicapai hasil optimal. Kecukupan intensitas latihan patut diperhatikan dimana durasi olah raga selama 20-45 menit. Tidak perlu setiap hari cukup 3 sampai dengan 4 kali seminggu.

Saat berolahraga lakukan secara bertahap, lakukan pemanasan terlebih dahulu 5-10 menit. Lakukan pendinginan 10-15 menit setelah berolahraga. Upayakan minum cukup agar tidak dihidrasi pasca berolahraga.

Olahraga bagi Lansia patut mempertimbangkan denyut nadi. Lakukan medical check up secara rutin agar diketahui dan dipilihkan takaran olah raga yang sesuai (1X/ tahun)

Untuk mendiagnosis osteoporosis, dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan dan gejala, termasuk riwayat kesehatan dan obat-obatan yang dikonsumsi pasien saat Anda berkonsultasi kesehatan.

Jika pasien cedera dan dicurigai mengalami patah tulang, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dahulu untuk mengetahui tingkat keparahan cedera dan patah tulang. Setelah itu, dokter akan melakukan Rontgen atau CT scan untuk melihat dengan jelas kondisi tulang yang patah.

Untuk memastikan osteoporosis dan mengetahui risiko pasien mengalami patah tulang, dokter akan melakukan pengukuran kepadatan tulang (bone density testing) menggunakan dual energy X-Ray absorptiometry (DXA).

---------------

Judul : Waspada Osteoporosis, Bisa Hadir Tanpa Gejala

Penulis : Tim Humas dan PKRS RSKO Jakarta

 Laporan : Instalasi Humas dan PKRS RSKO Jakarta








Share This News

Comment