• rskojakarta@yahoo.co.id
News Photo

Kegunaan dan Manfaat Sinar X dalam Kehidupan Manusia

Pemeriksaan Sinar-X atau yang lebih umum dikenal dengan Rontgen adalah salah satu teknik pencitraan medis yang menggunakan radiasi elektromagnetik untuk mengambil pencitraan atau foto bagian dalam tubuh.

Bila Anda berada di rumah sakit, klinik atau pun puskesmas jika mendengar, melihat dan membaca “sinar-X” maka Anda berada di area pelayanan Radiologi atau berada di sekitar mesin X-Ray.

Sinar-X  merupakan salah-satu bentuk radiasi elektromedik, seperti cahaya tampak gelombang radio. Karena sinar-X memiliki energi yang lebih dari pada cahaya tampak, maka sinar-X dapat menembus tubuh manusia.

Pertama kali sinar-X dipergunakan untuk fotografi oleh Wilhem Roentgen tahun 1895.  Setelah itu, sinar-X mengalami perkembangan penggunaan untuk pencitraan medis sampai sekarang. Bahkan nama penemunya sering dipergunakan untuk menyebut sinar-X sebagai rontgen.

Hasil pencitraan sinar-X dapat menghasilkan gambaran struktur tubuh untuk memeriksa penyakit atau masalah lain yang ada dalam tubuh manusia. Jadi sinarX merupakan alat diagnostik bagi penyakit pasien, bahkan langsung (real-Time guided) proses pengobatan pasien.

Terdapat beberapa peralatan medis yang menghasilkan Sinar-X yaitu sinar-X radiografi (Mesin Rontgen), CT Scan, dan Fluoroscopy.

Sinar-X Radiografi dapat digunakan untuk radiografi umum (ekstremitas atas, ekstremitas bawah, abdomen), radiografi gigi (foto gigi  panoramik), dan radiografi mamo (mamografi).

Sinar-X Fluoroskopi ada beberapa macam sesuai penggunaannya, untuk pemeriksaan usus atau untuk mendapatkan gambaran aliran darah di pembuluh darah. Fluoroskopi juga dapat digunakan untuk memandu prosedur perawatan seperti drainase ginjal yang terhambat, nefrostomi, atau pelebaran arteri yang menyempit, angioplasti.

CT Scan adalah sinar-X dengan teknologi cangih pasien diminta tidur terlentang pada sebuah meja panjang kemudian meja bergerak melewati lubang melingkar yang di dalamnya ada tabung sinar-X dan detektor. Pasien di sinar-X secara memutar (dipindai) dalam bentuk irisan (slice) sehingga terbentuk gambar struktur anatomi tubuh yang dipindai dan tampil dilayar tv monitor dan menghasilkan gambar 3D (tiga dimensi).

Ketika berada didepan ruang pemeriksaan Sinar-X akan terdapat marka-marka yang menunjukkan bahaya radiasi dan lampu berwarna merah.

Masyarakat banyak yang masih bertanya apakah diagnostik dengan sinar-X ada bahayanya?

Sinar-X itu adalah salah satu bentuk radiasi, maka akan sama dengan bentuk radiasi lainnya selain memiliki manfaat, radiasi sinar-X juga memiliki potensi risiko bahaya.  Diagnostik dengan sinar-X harus diupayakan memperoleh manfaat yang besar dengan menekan potensi risiko yang serendah-rendahnya.

Sinar-X dapat merusak sel-sel ditubuh, yang meningkatkan potensi risiko kanker. Peningkatan risiko radiasi sangat erat dengan prosedur penggunaan sinar-X dan banyaknya jumlah pemeriksaan dengan sinar-X.

Jadi sama dengan prinsip dengan terpapar sinar matahari, semakin lama terpapar akan berpotensi meningkatkan risiko bagi kesehatan.

Apakah Radiasi Sinar-X dapat dikendalikan?

Jadi jangan takut dengan Radiasi sinar-X, karena radiasi ini dapat dikendalikan meskipun tidak dapat dilihat oleh mata, tetapi radiasi dapat diukur dan diidentifikasi. 

Untuk mengidentifikasi besar kecilnya radiasi digunakan besaran “dosis radiasi” dalam satuan miliSievert (mSv). Setiap pemeriksaan pasien menggunakan radiasi sinar-X harus dapat diketahui perkiraan nilai dosis yang diterima pasien.

Jika nilai dosis radiasi diketahui maka untuk mengendalikan dosis menjadi optimum dapat dilakukan. Maksud dari optimum adalah sesuai yang dibutuhkan pasien untuk diagnostik sehingga potensi risiko pasien memperoleh dosis radiasi yang tidak perlu akan dapat dihindari.

Setiap pemeriksaan menggunakan sinar-X memberikan dosis radiasi pada pasien yang berbeda-beda tergantung pada jenis sinar-X yang digunakan (radiografi, fluoroskopi ataupun CT Scan), pengulangan pemeriksaan, dan lamanya pemeriksaan.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter atau tenaga medis lainnya, umumnya dilakukan di rumah sakit. Di samping itu, pemeriksaan X-ray   juga bisa dilakukan di berbagai laboratorium yang bekerja sama dengan rumah sakit.

Narasumber      : Iskandar Zuarsyah, AMR ( Radiografer )

Sumber              : Badan Pengawas Tenaga Nuklir 

Laporan : Instalasi Humas dan PKRS RSKO Jakarta

Share This News

Comment

Hotline : 0813 1871 8880