• rskojakarta@yahoo.co.id
News Photo

Konseling Kelompok Rehabilitasi Narkoba Fase re-Entry, Apa Itu ?

Deskripsi : Pertemuan Berkelompok dalam program Rehabilitasi Narkoba di RSKO Jakarta | Sumber Foto: dokpri

Jumlah Penyalahgunaan Obat / Narkoba / Napza sudah ditahap mengkhawatirkan sehingga menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan Pemerintah sendiri telah menetapkan Indonesia Darurat Narkoba dimana sampai saat ini status tersebut belum dicabut.

Dilansir dari Kompas.com ( DI SINI )  yang merujuk data BNN pada 2017, BNN mencatat angka prevalensi penyalahgunaan narkotika sebesar 1,77 persen atau setara 3.376.115 orang pada rentang usia 10-59 tahun. Sementara, pada 2018, prevalensi angka penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di 13 ibu kota provinsi di Indonesia mencapai angkta 3,2 persen atau setara dengan 2,29 juta orang.

Bukanlah suatu hal yang mudah bagi para penyalahguna narkoba untuk dapat mencapai kondisi pulih atau tidak lagi menggunakan narkoba. Banyak dari mereka yang harus melalui proses pengobatan dan pemulihan yang panjang bahkan sampai belasan tahun sehingga penting untuk didampingi oleh professional kesehatan mental seperti Psikiater, Psikolog  Klinis dan Konselor Adiksi. Rehabilitasi narkoba / napza bisa menjadi pilihan bagi seseorang / keluarga penyalahguna narkoba agar dapat pulih dari ketergantungan terhadap zat terlarang tersebut.

Salah satu fasilitas kesehatan yang memberikan layanan rehabilitasi narkoba ialah RSKO Jakarta. Dalam menjalani Rehabilitasi narkoba, pasien akan melalui beberapa tahapan atau fase perawatan untuk proses pemulihanannya.

Salah-satu fase / tahapan rehabilitasi narkoba yang terbilang cukup penting yaitu fase Re-Entry . Fase ini merupakan tahap akhir dari sebuah program pemulihan yang akan dilalui oleh setiap pasien penyalahguna narkoba (residen) yang menjalani rehabilitasi narkoba di RSKO Jakarta.

Sebelum melalui fase Re-Entry, pasien menjalankan proses detoksifikasi di ruang MPE (Medical Psychiatric Evaluation) selama 2 minggu atau berdasarkan evaluasi tim MPE (bisa kurang dari 2 minggu / lebih). Kemudian dilanjutkan dengan fase Primary selama kurang lebih 6 minggu. Selanjutnya pasien akan memasuki fase Re-Entry selama kurang lebih 4 minggu. 

Di fase rehabilitasi narkoba ini, para pasien akan dikondisikan secara perlahan-lahan agar mereka dapat lebih siap dan memiliki perilaku yang adaptif saat kembali ke rumah dan lingkungan sosialnya.

Ada beberapa terapi yang digunakan di Rehabilitasi narkoba RSKO Jakarta baik secara medis, psikologis maupun sosial. Salah satu terapi psikologis yang dilakukan yaitu konseling secara kelompok. Dalam sesi konseling tersebut, pasien dibekali dengan informasi terkait bagaimana mencegah kambuh (relaps prevention). 

Selain itu, ada pula program di fase re-entry rehabilitasi narkoba dimana pasien diperbolehkan untuk melakukan aktivitas yang menunjang ketika mereka telah kembali lingkungan sosial nya.

Dalam proses konseling kelompok adalah hal yang biasa terjadi apabila ada pasien yang mengalami kesulitan untuk menceritakan tentang dirinya apalagi dihadapan pasien lainnya. Seringkali informasi yang disampaikan pun cenderung sedikit dan hanya sebatas dipermukaan saja. Untuk itu perlu adanya pendekatan yang berbeda dari biasanya, dengan tujuan agar pasien dapat bercerita dengan santai namun banyak yang dapat ungkapkan. 

Pada hari Kamis, 27 September 2019, Psikolog Klinis mendapatkan kesempatan mengisi sesi konseling kelompok kepada pasien di fase re-Entry yang saat itu berjumlah 7 orang. Konseling kelompok kali ini menggunakan alat bantu berupa kartu-kartu foto The Coaching Game dari Points Of You.

Sesuai dengan manfaatnya, kartu-kartu tersebut digunakan untuk menstimulasi orang yang melihatnya sehingga mereka dapat memperkaya dan memperluas sudut pandangnya serta menggali informasi yang dimilikinya, baik informasi yang disadari maupun yang kurang disadari sehingga diharapkan akan memunculkan insight (pemahaman) dari dalam dirinya. Insight yang muncul dari dalam diri diharapkan akan menetap lebih lama dalam pikirannya, sehingga suatu saat jika dibutuhkan akan teringat kembali.

Terdapat  tiga topik yang di bahas selama poses konseling kali ini, yaitu memahami kondisi diri saat ini, mengenali hambatan baik dari dalam maupun dari luar diri yang dapat menjadi pemicu terjadinya relaps (kambuh) serta mengenali kekuatan atau support system yang dimiliki baik dari dalam maupun dari luar diri yang dapat menjadi benteng atau suplemen sehingga tidak mudah terjebak kembali dalam aktivitas penyalahgunaan narkoba.

Hal yang pertama kali dilakukan dalam proses konseling kelompok dengan pendekatan Points Of You adalah "pause" yaitu pasien diminta berdiam diri sejenak selama sekitar 4-7 menit dengan diiringi musik. Pada sesi "Pause" ini pasien dipersilahkan untuk melakukan instrospeksi diri atau kontemplasi, melakukan self talk misalnya menanyakan kepada diri sendiri bagaimana kabar nya selama ini, atau pun sekedar untuk menikmati momen istirahat juga boleh. Sesi pertama ini bertujuan untuk mengumpulkan energi kembali sehingga dapat lebih siap dan fokus untuk mengikuti konseling kelompok hingga selesai.

Selanjutnya masing-masing pasien diminta untuk mengambil 3 buah kartu. Kartu pertama adalah yang menggambarkan kondisinya sekarang, terkait bagaimana perasaan dan pikirannya saat ini mengingat mereka sudah berada di fase terakhir dalam proses pemulihan di RSKO. Apakah mereka merasa sudah memiliki bekal yang cukup untuk bisa kembali ke masyarakat atau jika belum, bekal apa lagi yang mereka butuhkan.

Kartu kedua, yaitu menggambarkan tentang hal-hal yang dapat menjadi penghambat dirinya dalam menjaga kondisi pulih (clean and sober). Saat berada pada situasi seperti apa yang bisa menjadi pemicu terjadinya relaps. Sedangkan kartu ketiga adalah kartu yang menggambarkan tentang kekuatan, kelebihan maupun support system yang dimiliki. Selanjutnya adalah mereka diminta untuk mengemukakan hal-hal apa saja yang dapat mereka lakukan kedepannya setelah keluar dari RSKO.

Beberapa contoh Insight yang didapati oleh residen adalah sebagai berikut:

  • Tn. Ni menceritakan kartu 1 yang dimilikinya menggambarkan dirinya saat ini sebagai seorang yang berkali-kali telah melakukan kesalahan dan tidak memiliki cinta, sehingga perilaku yang muncul saat berinteraksi dengan orang lain pun tanpa cinta.
  • Tn. S menjelaskan kartu 2 nya yaitu menggambarkan kesepian dan kesepian adalah salah satu kelemahannya atau hal yang dapat menjadi pemicu dirinya untuk relaps. Sehingga dirinya merasa tidak  nyaman pada saat sedang sendirian.
  • Dari kartu 3 miliknya, Tn A menemukan insight bahwa menjalin komunikasi dengan istri dan keluarga adalah suatu kegiatan yang dapat menjadi benteng bagi dirinya untuk terhindar dari relaps, sehingga ia akan mencoba untuk selalu menjalin komunikasi dengan orang-orang terdekatnya.
  • Tn. Na pun menceritakan kartu  ke 3 miliknya sebagai sesuatu yang menyadarkan bahwa support system yang paling berharga yang selama ini selalu membantunya dan tidak pernah menyerah kepada dirinya meskipun dirinya sudah bolak-balik masuk rehab adalah keluarga (orangtua). Tanpa orangtua entah apa yang mungkin terjadi padanya.

Tidak ada salah dan benar dalam setiap hal yang diutarakan oleh pasien karena semua itu muncul dari sudut pandang pribadi masing-masing yang dipengaruhi oleh pengalaman dan proses belajarnya di masa lalu. Bahkan insight yang didapat dari satu pasien dapat bermakna pula bagi pasien yang lain, sehingga setiap pasien bisa saling belajar dan mendapatkan manfaat antara satu dengan lainnya.

Kesan yang didapat selama proses konseling kelompok adalah, pasien dapat menjalani kegiatan yang berlangsung sekitar hampir 2 jam tersebut dengan santai, penuh keakraban tanpa ada perasaan tertekan dan yang terpenting adalah mendapatkan insight serta menemukan tujuan individualnya tentang hal-hal apa saja yang dapat mereka lakukan selanjutnya, terutama setelah mereka menyelesaikan program rehabilitasi narkoba di RSKO Jakarta.


Penulis: Dian Fatmawati M.Psi., Psikolog
Laporan: Instalasi Humas dan PKRS RSKO Jakarta

Share This News

Comment

Hotline : 0813 1871 8880