• rskojakarta@yahoo.co.id
News Photo

Penyuluh Kesehatan Masyarakat Saatnya menjadi Buzzer di era New Normal

Deskripsi : Penyuluh Kesehatan Masyarat Saatnya Menjadi Buzzer I Sumber Foto: pixabay

Pandemi Covid-19 belum jelas akan berakhir kapan dan masyarakat dunia memasuki era New Normal. Era ini disebut-sebut merupakan tatanan kehidupan normal yang baru dimana masyarakat mengikuti protokol kesehatan mencegah penyebaran virus corona.

Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus beradaptasi dengan prilaku normal yang baru / new normal bila tidak maka berbagai segi kehidupan manusia akan berantakan. Untuk itu peran Penyuluh Kesehatan Masyarakat di era new normal harus digalakkan sesuai dengan protokol kesehatan yang mencegah kerumunan massa.

Penyuluh Kesehatan Masyarakat sebelum masa pandemi covid-19 lebih kepada mengorganisir penyuluhan kesehatan kepada masyarakat secara offline dengan melibatkan tenaga kesehatan profesional, dan membuat alat promosi kesehatan cetak (flayer, banner dan spanduk). Maka pada masa pandemi covid-19 sudah saatnya berubah menggunakan pendekatan revolusi industri 4.0 / digital, bila perlu mendengung bagaikan buzzer. 

Istilah buzzer atau pendengung makin populer semenjak pemilihan Presiden RI 2004. Tetapi profesi ini sudah dikenal oleh perusahaan ketika media sosial mulai masif dimanfaatkan sebagai channel komunikasi pemasaran. Baik untuk komunikasi pemasaran sebuah produk, jasa, sampai komunikasi "pemasaran" di bidang politik. 

Buzzer adalah orang yang memiliki pengaruh tertentu untuk menyuarakan sebuah kepentingan. Entah orang itu tergerak dengan sendirinya untuk menyuarakan hal tersebut, atau ada imbal baliknya. Cara menyuarakan bisa secara langsung atau secara anonim. Seorang Penyuluh Kesehatan Masyarakat dengan kepentingan mengedukasi masyarakat secara massal sangat cocok sebagai buzzer.

Bila Penyuluh Kesehatan Masyarakat menggunakan pendekatan era revolusi industri 4.0 ini maka mengharuskan untuk mengikuti perkembangan jaman dan budaya masyarakat terkini yang begitu dekat dengan penggunaan smartphone, menjadi seorang buzzer bisa menjadi pilihan.

Whats Apps Group (WAG) telah dijadikan masyarakat untuk berkomunikasi secara massal yang mengakibatkan banyak berita hoaks bertebaran. Bahkan banyak informasi kesehatan terindikasi hoaks. Hal ini dapat kita lihat dari rangkuman laporan hoaks di kanal Kominfo (DI SINI)

Sudah saatnya para penyuluh kesehatan masyarakat yang berada di fasilitas kesehatan, dinas kesehatan, dan Kementerian Kesehatan mengupgrade diri dalam pendekatan penyuluhan kesehatan masyarakat berbasis digital seperti sosial media, blog dan youtube. 

Social media, blog dan video edukasi kesehatan youtube dapat menjadi sarana edukasi kesehatan bagi Penyuluh Kesehatan Masyarakat yang benar dan valid. Link dari sosial media, blog dan youtube dapat disebarkan melalui whats apps group (WAG). Target audiens akan lebih mengena karena di masa Work From Home, Study From Home dan Dirumah Aja membuat masyarakat tidak bisa kemana-mana berujung lebih dekat melihat smartphone.

Kita perlu melihat kebelakang dimana masyarakat memburu masker bedah yang menujunjukkan masyarakat sudah beralih dari bersifat reaktif kuratif menuju proaktif preventif. Banyaknya informasi yang beredar dan mereka baca, mendorong masyarakat semakin sadar tentang kesehatannya dan berusaha melakukan langkah-langkah preventif agar tidak sakit dan tetap sehat. 

Pandemi Covid-19 mendorong pergeseran pendidikan kesehatan masyarakat dari perpektif individu menuju masyarakat yang kolektif. Oleh karenanya Pemerintah di seluruh dunia membuat protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19. Penyuluh kesehatan masyarakat perlu memperhatikan edukasi kesehatan dengan perpektif massal yang tidak cukup hanya fokus pada indvidu tertentu saja.

Tentu saja, upaya peningkatan literasi kesehatan penting dikuasai oleh penyuluh kesehatan masyarakat di fasilitas kesehatan agar masyarakat dapat berpartisipasi secara tepat menjalankan protokol kesehatan penyebaran virus corona.

Pentingnya perubahan perspektif dalam memposisikan masyarakat, yang pada awalnya sebagai objek, dan saat pandemi Covid-19 ini Penyuluh Kesehatan Masyarakat harus memposisikan masyarakat sasaran sebagai subjek. Lakukan upaya-upaya untuk melibatkan audiens membantu menyebarkan program-program promosi kesehatan.

Informasi di masyarakat dapat berkembang secara dinamis dalam waktu yang sangat cepat, apakah itu positif ataupun negatif dan dapat menjadi viral hanya dalam satu kedipan mata. Informasi kesehatan yang beredar bebas di masyarakat sering kali tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan menjadi hoaks yang menyesatkan masyarakat. 

Oleh karena itu, penyuluh kesehatan di masa new normal dituntut untuk dapat berinovasi dalam promosi kesehatan salah satunya promosi kesehatan digital untuk mengatasi tantangan berita hoaks. Masih terlihat banyak fasilitas kesehatan dan rumah sakit yang hanya menggunakan media sosial sebagai sarana publikasi belum menjadi sarana edukasi masyarakat. saatnya berubah.

Promosi kesehatan digital merupakan peluang dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat mengingat sebagian besar penduduk Indonesia menggunakan smartphone dengan akses internet, dan memiliki media sosial walaupun hanya stalking.

Masih banyak masyarakat belum cerdas memilah informasi sehingga terjebak pada hoaks, bahkan diantaranya berpendidikan tinggi. Hal tersebut karena hadirnya para buzzer jahat dengan konten negatif yang mengarahkan pikiran kita menjadi sesat dan penuh prasangka.

Penyuluh kesehatan masyarakat selayaknya menjadi seorang buzzer dengan konten kesehatan yang benar dan valid. Bila perlu menjadi bagian dari klarifikasi berita hoaks, karena masih banyak diantara kita yang terjebak berita hoaks.

---

Laporan : Instalasi Humas dan PKRS RSKO Jakarta

Share This News

Comment

Hotline : 0813 1871 8880

Chat Via WhatsApp