• rskojakarta@yahoo.co.id
News Photo

Rapid Test Covid-19 Bisa False (+/-), Bagaimana Dengan Test Narkoba ?

Deskripsi : RSKO Jakarta memiliki alat yang dapat mengkonfirmasi bila ada hasil postif Napza I Sumber Foto : dokpri

Munculnya pandemi Covid-19 diseluruh dunia membuat berbagai mata dan telinga memperhatikan perkembangannya. Setiap hari pemberitaan jumlah kasus positif, pasien sembuh dan meninggal dikomsumsi 0leh masyarakat. Untuk menentukan apakah seseorang positif Covid-19 dilakukan dengan rapid test dan swab PCR.

Pada awal-awal kemunculan Covid-19 penggunaan Rapid test Covid-19 menjadi andalan beberapa negara untuk mengetahui penyebaran jumlah kasus positif. Penggunaan rapid test lebih kepada screning yang bisa menentukan seseorang positif atau tidak terjangkit Covid-19 harus melalui uji Polymerase Chain Reaction atau PCR.

Dilansir dari republika.go.id (06/04/2020), Ahli epidemiologi dari Universitas Andalas (Unand) Padang, Sumatera Barat Defriman Djafri Ph.D mengatakan, apabila hasil tes cepat atau rapid test seorang menunjukkan positif maka belum tentu bersangkutan positif terjangkit Covid-19. Masih ada tes lagi untuk memastikannya yaitu PCR test.

Sama seperti rapid test Covid-19 yang dijelaskan diatas, false positif / negatif dapat terjadi pada test narkoba karena beberapa faktor. Untuk itu mengapa para pemohon surat keterangan bebas narkoba (SKBN) harus berhati-hati memilih fasilitas kesehatan.

Terdapat beberapa fasilitas kesehatan / non fasilitas kesehatan yang memberikan biaya / harga yang rendah untuk test narkoba karenanya masyarakat harus berhati-hati. Test narkoba sama seperti rapid test Covid-19 yang dapat memberikan hasil false negatif / positif.

Deskripsi : Kepala Instalasi Laboratorium RSKO Jakarta, dr.Hermawanto HH. SpPK.,MARS I Sumber Foto : dr.Hermawanto

Kepala Instalasi Laboratorium RSKO Jakarta, dr.Hermawanto HH. SpPK.,MARS, menjelaskan "Hasil posiif dari sampel urine bisa terdeteksi NAPZA / Narkoba dan bisa terdeteksi bukan NAPZA namun menyerupai NAPZA (false positif) untuk itu perlu konfirmasi dengan metode lain. Setiapuji  skrining ada false positif dan false negative nya, untuk itu tidak bisa dibilang karena alat laboratorium nya yang salah" jelasnya saat diwawancara via online (8/5/2020).

Tambah dr, Hermawanto, Jika hasil negatif, sampel urine tidak terdeteksi bukan berarti sampel urine tidak ada NAPZA. Bisa jadi ada NAPZA tapi tidak terdeteksi. Bisa jadi juga ada NAPZA tapi kadarnya rendah atau memang tidak ada NAPZA.

Lanjutnya, untuk itu perlunya skrining test dengan cut off yang lebih rendah untuk kasus ada NAPZA namun tidak terdeteksi. Definisi cut off dapat kita misalkan dengan botol air minum di isi 500 ml terisi penuh sedangkan menggunakan botol air minum lain cukup di isi 400 ml sudah penuh. Kapasitas botol satu dengan yang lain berbeda sehingga beda dalam menentukan hasil penuh.

Keunggulan laboratorium Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta apabila ada hasil positif dapat dilakukan metode konfirmasi dalam pemeriksaan NAPZA, . Metode konfirmasi akan menjadi wasit dalam pemeriksaan NAPZA yakni dengan mengunakan metode gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) .

Sehingga bagi individu yang diperiksa sampel urine test narkoba tidak perlu cemas apabila hasilnya positif. RSKO Jakarta dapat melakukan pemeriksaan lanjutan GCMS apakah benar hasil pemeriksaan sebelumnya.

Dengan metode GCMS ini akan bisa melihat lebih spesifik jenis NAPZA nya atau derivate NAPZA (obat yang memberikan reaksi 'silang positif'). Metode ini untuk penegasan kepada orang yang melakukan pemeriksaan NAPZA apakah dirinya memang pengguna NAPZA atau ada faktor lain seperti mengkomsumsi obat resep dokter, dll.

Jadi proses pemeriksaan NAPZA/Narkoba di Laboratorium RSKO Jakarta sangat berhati-hati dalam memutuskan apakah seseorang tersebut terdeteksi menggunakan NAPZA, dereviate NAPZA, atau tidak ada NAPZA didalam tubuhnya. Kesalahan dalam membuat keputusan bisa berakibat fatal.

Sebagai fasilitas kesehatan yang memiliki pengalaman mengelola laboratorium NAPZA tentunya menyadari manajemen resiko yang baik. Sehingga kejadian pasien salah terindikasi postitif dapat dihindari dengan adanya metode GCMS ini.

Dr.Hermawanto menerangkan bahwa hasil positif test Narkoba/NAPZA belum tentu positif sebagai pecandu narkoba. Hasil laboratorium untuk Narkoba/NAPZA (Narkotika Alkohol Psikotripika Zat Adiktif Lainnya) dalam proses pemeriksaannya menggunakan metode skrining sebelum diperiksa lebih spesifik.

RSKO Jakarta sebagai one stop service pelayanan dibidang NAPZA memiliki laboratorium yang handal dan bermutu. Untuk menjaga kualitas pemeriksaan NAPZA di Laboratorium RSKO Jakarta menggunakan 3 (tiga) tahapan penting yang disebut pre-analitik, analitik dan post analitik.

Tahap pertama adalah pre-analitik termasuk pembekalan informasi bagaimana seseorang mempersiapkan diri sebelum diambil sampel urinnya. Seseorang yang di test NAPZA harus menyampaikan secara jujur obat-obat apa saja yang dikomsumsi, termasuk multivitamin, obat herbal/ jamu dan lainnya. Pada tahap ini petugas akan sangat hati-hati dalam mengindentifikasi sampel urin agar tidak tertukar dengan sampel urin orang lain.

Tahap kedua adalah analitik, disini pihak laboratorium RSKO Jakarta juga akan akan sangat berhati-hati dalam menentukan memakai metode pemeriksaan apa, menggunakan alat apa, menggunkan reagen apa dan bagaimana menjaga kualitas pemeriksaannya.

Dalam urusan analitik ini Laboratorium RSKO Jakarta tidak akan kompromi dengan berbagai motode dan alat pemeriksaan maupun reagen yang tidak mendapat rekomendasi dari profesi, keilmuan, sertifikasi FDA, Balai POM, dll.

Selain itu pihak Laboratorium RSKO juga masih harus melakukan ujicoba dulu terhadap sensitifitas dan sesifisitas reagen sebelum dipakai operasional pelayanan. Menurut dokter Hermawanto semua itu dilakukan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah dan komitmen tinggi menjaga mutu dan profesionalisme.

Tahap ketiga adalah post analitik. Pada tahap ini proses administrasi yang dilakukan oleh tim Laboratorium RSKO Jakarta. Dari menuliskan hasil laboratorium dalam komputer, mencetak, memasukkan dalam amplop, dan memberikan kepada petugas pengirim. Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kesalahan administrasi, maka dibutuhkan pengawasan berjenjang untuk meminimalisir kesalahan.

Ketiga tahapan tersebut (pre-analitik, analitik dan post analitik) menjadi bagian utama dalam kendali mutu laboratorium.

-----

Blogpost ini diupload oleh Instalasi Humas dan PKRS RSKO Jakarta

Penulis : Andri Mastiyanto, SKM (Penyuluh Kesehatan Masyarakat)

Narasumber : Kepala Instalasi Laboratorium RSKO Jakarta, dr.Hermawanto HH. SpPK.,MARS,

Terima kasih, Salam Hangat RSKO Jakarta
Facebook (DISINI) - Twitter (DISINI) - Instagram (DISINI) - Web (DISINI)

Share This News

Comment

Hotline : 0813 1871 8880